Ketika Peneliti dan Praktisi bertemu di Klinik Pengetahuan

Anda di sini

Depan / Ketika Peneliti dan Praktisi bertemu di Klinik Pengetahuan

Ketika Peneliti dan Praktisi bertemu di Klinik Pengetahuan

Lebih kurang 25 peneliti dan praktisi bertukar informasi serta pengalaman terkait pengetahuan hijau, Kamis 29 September, di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Peserta datang antara lain dari Jakarta, Sumba dan Kupang.
Kegiatan tersebut bertajuk “Workshop Identifikasi dan Koleksi Informasi Produk Pengetahuan yang dihasilkan oleh Green Knowledge (GK) Grantee, Identifikasi Produk Pengetahuan oleh Proyek Green Prosperity (GP) dan non GP serta Sinergi Produk Pengetahuan dan Kegiatan Diseminasi antara GK Grantee dengan Proyek GP dan non GP” yang digelar di Hotel Amaris Kupang.
Ada 3 grantee dari GK yaitu Konsorsium Karbon Biru, Yayasan BaKTI serta PETUAH Undana sendiri serta 5 grantee dari GP yaitu Konsorsium Pembangunan Berkelanjutan NTT, Konsorsium Weepadalu, Samdhana Institute, Veco Indonesia dan Koalisi Perempuan Indonesia serta 2 non grantee yaitu FAO dan Sumba Hotel School yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Untuk lembaga non grantee walaupun tidak didukung oleh MCA (Millenium Challenge Account) Indonesia namun mereka telah lama bekerja di NTT khususnya Sumba dengan dukungan donor lain dengan fokus isu yang sama dengan beberapa grantee GK dan GP sehingga dengan sukarela mengikuti kegiatan ini untuk bertukar pengetahuan dengan para mitra MCA Indonesia.

 

 

 

Dalam sambutannya mewakili Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) ketika membuka kegiatan, Bapak  Dr.Ir. Damianus Adar, M.Ec selaku Dekan Fakultas Pertanian Undana menyampaikan bahwa telah banyak penelitian yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan tersimpan dalam bentuk laporan yang hanya dapat diakses oleh sedikit oran. Demikian juga dengan NGO (Non Goverment Organization) atau LSM yang telah banyak melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat, kerja-kerja itu biasanya hanya menjadi laporan ke pihak pemberi dana dan sedikit sekali yang bisa dikonsumsi publik. Apalagi pemerintah, telah banyak program pembangunan yang dilaksanakan namun ketiga unsur ini (perguruan tinggi, NGO dan pemerintah) masih berjalan sendiri-sendiri, untuk itu sangat dibutuhkan ruang-ruang sinergi antara para pelaku pembangunan tadi agar sekian banyak capaian maupun pembelajaran dari kegiatan-kegiatan itu menjadi referensi bersama untuk rencana pembangunan ke depannya.
Kegiatan ini dikemas dengan sangat menarik dimana pada hari pertama semua grantee maupun non grantee diberikan kesempatan untuk berbagi menceritakan kegiatan yang sedang dilakukan serta pengetahuan yang telah terkumpul selama mereka bekerja di NTT.
Untuk Petuah Undana sendiri sesuai dengan mandat yang diberikan oleh MCA-Indonesia, ada sekitar 18 best practices terkait pertanian lahan kering dan peternakan, 6 topik policy brief dan 4 topik technical review yang berhasil dihimpun dari Oktober 2015- Juni 2016.

 

 

 

Ketika para grantee menyampaikan presentasinya, tim Petuah Undana langsung mengidentifikasi “knowledge indikatif” yang akan diperdalam dengan masing-masing grantee tersebut di sesi berikutnya. Dimana ada sekitar 12 orang ahli yang dihadirkan untuk untuk berbagi dengan peserta guna mengidentifikasi pengetahuan yang bermanfaat untuk mempertajam rencana aksi di lapangan khususnya bagi GP grantee, memberikan solusi-solusi praktis atas tantangan yang dihadapi terkait tehnik-tehnik pertanian bahkan tantangan- tantangan ini diharapkan kemudian menjadi inspirasi riset atau pengamatan lanjutan dari para ahli untuk menjadi input baik bagi pemerintah maupun GP dan GK grantee. Para ahli yang hadir memiliki bermacam- macam keahlian mulai dari ekonomi pertanian, perikanan dan kelautan, panen dan pengolahan hasil, ekonomi pembangunan regional, biologi tanaman, penyakit tumbuhan, hama, pemuliaan, fisiologi tumbuhan, pengelolaan sumber daya lahan kering sampai extention and community development.

Ibarat sedang bertemu “dokter” para “pasien” tidak tanggung-tanggung menyampaikan keluhannya. Hari kedua suasana menjadi ramai dengan rasa ingin berbagi baik dari para grantee, non grantee maupun para ahli. Kekayaan informasi dan pengalaman dari lapangan menjadi energi baru bagi para ahli, begitu juga dengan ilmu-ilmu dan hasil riset/kajian yang dibagikan mendorong para grantee untuk semakin berkomitmen dalam bekerja berbasis data. Semua menyadari pada akhirnya segala sesuatu harus dipertanggung jawabkan kepada banyak pihak, maka sambil berbagi pengetahuan harus ada nilai-nilai yang dibangun dan dijalankan bersama. “Sudah lama kami rindu untuk kerja kolaborasi dengan perguruan tinggi dan kami bersyukur dengan project MCAI hal itu bisa terwujud” ungkap Haris Oematan, Direktur CIS Timor yang merupakan lembaga lead Konsorsium Pembangunan Berkelanjutan NTT.

 

Para peserta terlihat juga bersemangat untuk saling mengkoneksikan diri satu sama lain setelah mengetahui fokus isu bahkan keahlian dari masing-masing grantee maupun non grantee. Ibu Redempta Bato, Kepala sekolah Sumba Hotel School misalnya, menyampaikan apresiasi atas forum ini. “Kami sangat tertarik untuk mengembangkan ekowisata di Sumba, untuk itu kami akan belajar pada Konsorsium Karbon Biru dan kami juga tertarik dengan pengembangan tenun berbasis pewarna alam, kami akan belajar juga dari Samdhana Institute. Senang sekali bisa ikut kegiatan ini” ungkapnya. Lain lagi pendapat Ibu Welly Kono dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI),  menurutnya KPI baru pertama kali mengerjakan isu pertanian sehingga butuh banyak masukan dari yang sudah berpengalaman. Dan di kegiatan workshop ini, setelah hari pertama telah bekerja (work)/presentasi maka hari kedua waktunya shopping pengetahuan dan keahlian. Beliau langsung ditawari oleh Pak Zet Malelak dari CIS Timor untuk pelatihan pembuatan bipang jagung bagi ibu-ibu (kegiatan pengolahan pasca panen) dan Petuah Undana juga menawarkan bantuan beberapa ahli pada Ibu Welly untuk kegiatan-kegiatan KPI ke depan.

 

Menutup seluruh rangkaian kegiatan Pak Yoseph S Mau dari Petuah Undana selaku ketua panitia, menyampaikan reviewnya. Setidaknya dalam waktu dekat ini ada 4 kebutuhan “pengetahuan hijau” yang dibutuhkan para GP grantee yang hadir  yaitu analisis pengurangan emisi karbon, analisis ekonomi rumah tangga dan analisis kandungan gizi tomat lokal dan introduksi tomat (ukuran buah, varietas) dalam bentuk booklet serta informasi tentang air limbah rumah tangga untuk proses pemurniannya agar dapat digunakan untuk menyiram tanaman (khusus untuk bagian ini akan diadopsi dari pengalaman Sumba Hospitality School).
Selain kebutuhan pengetahuan hijau, kegiatan ini juga berhasi mengidentifikasi beberapa hal yang menjadi media sinergi produk pengetahuan hijau dan disemininasi bersama antara GK grantee, GP grantee dan non grantee antara lain standarisasi indikator/kriteria untuk best practices, media/forum/moment untuk promosi hasil knowledge bersama, diseminasi bersama melibatkan GK dan GP grantee kepada beneficeries dari masing-masing wilayah dampingan serta menjadikan sekolah lapang (khusus yang dibina oleh Yayasan Donders di Sumba Barat Daya) sebagai salah satu lokasi untuk kegiatan bersama.
Apapun dinamika dari proses ini, yang jelas tim Petuah sendiri sangat terbantu untuk mengidentifikasi kebutuhan pendampingan terkait riset atau kajian bahkan penyusunan policy brief seperti apa yang nantinya dibutuhkan para grantee sekaligus bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Para grantee maupun non grantee semakin mendapatkan banyak sumber daya untuk saling mendukung kerja-kerjanya, membangun protokol komunikasi dan memilih platform media yang paling sesuai kebutuhan untuk terus berbagi pengetahuan. Seperti yang diingatkan oleh salah satu peserta, Pak Ujang, perwakilan FAO di NTT bahwa pengalaman dan pengetahuan sebenarnya milik masyarakat jadi sudah seharusnya semua yang dikerjakan hari ini dikembalikan kepada masyarakat untuk kesejahteraan mereka.

Feedback
Share This: