Pelatihan GALS untuk Agen dan Pelanggan Corn Milling

You are here

Home / Pelatihan GALS untuk Agen dan Pelanggan Corn Milling

Pelatihan GALS untuk Agen dan Pelanggan Corn Milling

Mulai tanggal 25 - 30 September 2017, Konsorsum Hivos melakukan training Gender Action Learning System (GALS) untuk 40 agen dan 80 pelanggan corn milling. Corn milling adalah penggilingan mikro bertenaga surya untuk pengolahan pangan pokok. Melalui dukungan kemitraan dengan Millenium Challenges Account – Indonesia, Hivos bersama mitra Village Infrastucture Angel menyediakan 50 sistem penggilingan mikro untuk pengolahan hasil pertanian dan bahan pangan pokok masyarakat di Sumba seperti jagung dan padi. Teknologi ini diharapkan mampu mengurangi beban perempuan dalam proses pengolahan manual bahan pangan, menghapus ketergantungan dalam bahan bakar minyak, dan juga membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat yakni listrik. 

Untuk menguragi kemiskinan dan mengurangi emisi gas rumah kaca melalui solusi energi baru terbarukan dan gender inclusive pada rencana global pertumbuhan hijau di 9 wilayah dan 17 kabupaten maka didesain program Sumba Iconic Island (SII) dan Indonesia Domestic Biogas (BIRU). Untuk mendukung hal tersebut, Konsorsium hivos melalui pendanaan dari MCA Indonesia mulai melaksanakan program pendukung yang dikenal dengan nama Proyek Terang.

Ada pun Proyek Terang ini berfokus pada penguatan kapasitas staf proyek dengan memampukan mereka membuat program yang berkualitas dan mengarah pada manfaat yang setara untuk perempuan, laki-laki dan penerima manfaat dari kelompok rentan. Melalui Project Social and Gender Integration Plan (P-SGIP), tim diberikan pedoman untuk bertanggung jawab pada pengimplementasian untuk mengoperasionalkan integrasi sosial dan gender sebagai komponen inti di seluruh proses implementasi, monitoring, evaluasi dan pembelajaran.

Salah satu gagasan penting dalam program terang ini adalah menghubungkan penggunaan dan penyebaran energi baru terbarukan agar dapat memperbaiki kondisi perempuan Sumba sekaligus mentransformasi relasi gender di Sumba sehingga menjadi lebih adil dan setara serta mewujudkan pembangunan yang lebih selaras alam di Sumba. lewat proses penyadaran tentang perspektif gender, perempuan menjadi aktor kunci dalam proses perubahan sosial menuju ke arah pembangunan berkelanjutan di Sumba, khususnya melalui penyebaran energy baru terbarukan. 

 

 

 

Training atau pelatihan ini memiliki dua sasaran, yakni Gender Focal Point (GFP) dan masyarakat. Masyarakat yang dimaksud adalah agen corn milling dan pelanggannya. Untuk GFP, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan GFP dalam memfasilitasi proses pembuatan perencanaan utuk melakukan komitmen aksi perubahan di tingkat individu bagi agen dan pelanggan PV agroprocessing serta meningkatkan kemampuan dan keterampilan GFP dalam memfasilitasi agen dan pelanggan untuk melakukan analisa menggunakan perjalanan visi dan pohon keluarga bahagia untuk membuat perubahan yang berperspekstif gender (peran, pengambilan keputusan dan kepemilikan aset) terkait PV agroprocessing yang dipasang di komunitas. Sementara itu, untuk masyarakat, kegiatan in bertujuan untuk memperkuat dan memperluas kemampuan agen dan pelanggan dalam  membuat perencanaan dan melakukan komitmen aksi perubahan individu serta memperkuat kesadaran dan komitmen agen dan pelanggan dalam membuat perubahan yang berperspektif gender (peran, pengambilan keputusan dan kepemilikan aset) terkait dengan EBT yang dipasang di komunitas. 

Aula Hotel Monalisa di jalan Adhyaksa No. 30, Waikabubak, Sumba barat - NTT adalah tempat yang di pilih untuk melakukan kegiatan tersebut dengan melibatkan 120 peserta. Selama dua hari awal, kegiatan difokuskan pada 40 peserta dari 20 agen corn milling dan dibagi dalam dua ruangan dengan fasilitator dari GFP Yasalti dan GFP Sandhika untuk ruangan satu yang berisi 16 peserta dari 8 agen, dan ruangan lainnya di fasilitasi oleh GFP Pelita dan GFP Bahtera yang berisi 24 peserta dari 12 agen. Sementara 80 peserta lainnya adalah pelanggan.

Khusus untuk pelanggan pelatihan berlangsung selama empat hari. Hari pertama dan kedua diikuti oleh 32 peserta yang masing-masing dibagi menjadi dua kelas. Kelas pertama yang  difasilitasi oleh GFP Sandika diikuti oleh 16 peserta dan kelas kedua yang  difasilitasi oleh  GFP Yasalti diikuti oleh 16 peserta. Hari ketiga dan keempat diikuti oleh 48 peserta yang masing-masing dibagi menjadi dua kelas. Kelas pertama yang difasilitasi oleh GFP Pelita diikuti oleh 24 pelanggan dan kelas kedua yang difasilitasi oleh GFP Bahtera ikuti oleh 24 peserta.

 

 

 

Dalam pelatihan tersebut peserta diajak untuk dapat merumuskan perjalanan visi dan  membuat pohon keseimbangan gender. Dalam merumuskan perjalanan visi, peserta perlu menggambar berbagai simbol yang dapat mewakili setiap harapan yang mereka harapkan di masa depan dimulai dengan apa yang ingin mereka capai dua tahun yang akan datang dengan berbagai potensi yang ada terhadap perkembangan ekonomi keluarga mereka. Setelah itu peserta perlu menggambar harapan untuk 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan mendatang yang dapat membantu mereka mencapai target 2 tahun. Dari gambar yang ditemui dalam perjalan visi, beberapa harapan peserta adalah membangun rumah yang lebih layak, mampu membiayai sekolah anak, meningkatkan jumlah peliharaan ternak, perluasan lahan kebun yang dimiliki, meningkatkan keterampilan tangan seperti anyaman dan lain-lain.  Sementara itu peluang dimiliki adalah modal lahan yang ada, ternak yang bisa dikembangbiakkan, dan tantangan yang dihadapi oleh peserta adalah pencurian yang sering merugikan masyarakat serta musim yang kadang tidak sesuai perkiraan.

Selain perjalanan visi, alat lain yang digunakan adalah pohon keseimbangan gender. Dalam pohon keseimbangan gender dapat dilihat bagaimana pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga atau pun dalam usaha-usaha bersama. Dalam hal pendapatan, aktivitas dan pengeluaran dibutuhkan keseimbangan gender. Keseimbangan itu dapat terlihat dari aktivitas peserta yang harus menggambarkan peran masing-masing anggota keluarga dalam sebuah gambar berbentuk pohon. Peserta juga perlu menganilsis aktivitas yang berdampak pada ekonomi keluarga mereka.

 

 

 

Dari berbagai aktivitas tersebut, peserta yang merupakan agen dan pelanggan corn milling atau penggiling jagung bertenaga surya diharapkan mampu mencapai target yang diinginkan dengan mengenali pembagian peran dan tugas dalam berbagai usaha baik di tingkat keluarga maupun usaha-usaha bersama yang dibangun dalam masyarakat. **

Contact
Share This: