Membangun Ketahanan Pangan dari Keluarga

You are here

Home / Membangun Ketahanan Pangan dari Keluarga

Membangun Ketahanan Pangan dari Keluarga

Mengacu pada definisi FAO mengenai ketahanan pangan, maka untuk mencapai kondisi ketahanan pangan harus memenuhi 4 komponen yang harus dipenuhi , yaitu: pertama, kecukupan ketersediaan bahan pangan, kedua, stabilitas ketersediaan bahan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun, ketiga, aksesibilitas/keterjangkauan terhadap bahan pangan, serta keempat, kualitas/keamanan bahan pangan yang digunakan. Hal tersebut sejalan dengan  Peraturan Pemerintah No 68 tahun 2002 tentang ketahanan pangan, ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah, maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Ketahanan pangan pada dasarnya bicara soal ketersediaan pangan (food avaibilitas), stabilitas harga pangan (food price stability), dan keterjangkauan pangan (food accessibility).
Sumber pangan tidak melulu berasal dari tanaman yang ada di sawah maupun ladang saja, melainkan juga bisa disediakan sendiri. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan pekarangan. Pemanfatan pekarangan dalam konteks ini tentunya pekarangan yang dikelola melalui pendekatan terpadu berbagai jenis tanaman, ternak dan ikan, sehingga akan menjamin ketersediaan bahan pangan yang beranekaragam secara terus menerus, guna pemenuhan gizi keluarga. Untuk dapat memaksimalkan fungsi pekarangan ini, maka peran perempuan sebagai pengelola rumah tangga dan menjaga ketahanan pangan keluarga sangat diperlukan.
Peran perempuan dalam menjaga ketahanan pangan keluarga setidaknya terbagi dalam tiga hal: pertama, kemampuan untuk mengatur ekonomi keluarga sehingga mampu untuk membeli kebutuhan pangan. Kedua, kreatifitas perempuan dalam melakukan diversifikasi pangan.


Ketiga , kreatifitas untuk memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat menanam tanaman pangan. Peran-peran nyata dari perempuan dalam menopang ketahanan pangan keluarga menjadi konstribusi nyata untuk menunjang ketahanan pangan nasional.
Ketiga peran perempuan tersebutlah yang menjadi salah satu dasar bagi Konsorsium klub baca Perempuan dan KSU Karya Terpadu dalam melaksanakan program pendampingan untuk 12 kelompok usaha perempuan yang tersebar pada 8 desa yang ada di Kabupaten Lombok Utara. Namun untuk dapat menjalankan dengan baik peran tersebut, khususnya yang ketiga, yakni kreatifitas untuk dapat memanfaatkan lahan kosong tersebut maka konsorsium tersebut memandang perlu adanya pelatihan bagi semua anggota kelompok. Tidak hanya mengenai kelembagan dan manejemen kelompok saja tetapi juga bagaimana mengolah sampah dapur menjadi pupuk organik serta berbagai teknik untuk budidaya tanaman di pekarangan sebagai salah satu sumber pangan. Untuk itu konsorsium telah melakukan pelatihan dan uji coba Implementasi Pembuatan Pupuk Organik dan Kebun Pangan Organik yang dilaksanakan secara bertahap di semua kelompok dampingan. Sebagai lokasi terakhir, dua Kelompk Usaha Perempuan yang berada di Dusun Kerujuk Desa Pemenang, yakni kelompok Sumber Manis dan Kelompok Sumber Bambu.


Pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari. Pada hari pertama peserta diajak untuk dapat mengenal berbagai tanaman yang memungkinkan untuk ditanam di pekarangan dengan memanfaatkan limbah plastik, seperti baskom, botol plastik, ember dan lain-lain. Serta berbagai cara budidaya. Selain itu, peserta juga diajarkan teknik pembibitan. Selama ini mereka hanya mengetahui bahwa pembibitan yang dilakukan hanya menggunakan polybag, tetapi bahan lokal juga sebenarnya bisa dipergunakan, dari bambu bekas hingga daun pisang yang masih segar bisa dimanfaatkan sebagai wadah pembibitan. Sampai disini tentu decak kagum menyertai setiap penjelasan pemateri. Mereka tidak menyangka, material yang selama ini dianggap tidak bermanfaat bisa dipergunakan untuk pengembangan pertanian. Setelah mendapatkan materi tersebut, peserta diajak untuk praktik. Mulai dari penyiapan media pembibitan serta penyiapan media tanam.
Pada hari kedua,  ibu-ibu mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk organik berbahan sampah organik limbah dapur. Berbagai sampah dapur tersebut difermentasi dalam satu wadah dengan menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL) untuk mempercepat proses. MOL yang dipergunakan oleh kelompok juga berbahan lokal, bisa dari bongkol pisang atau sisa buah-buahan yang dicampur dengan air gula dan air beras. Setelah dilakukan permentasi MOL tersebut dapat diaplikasikan pada sampah yang akan dikelola. Hasilnya berupa cairan yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk sedangkan yang berbentuk padatan dapat dipergunakan sebagai pupuk atau sebagai media tanam. Selanjutnya pupuk tersebut langsung dapat mereka aplikasikan pada tanaman yang telah mereka buat pada pelatihan hari pertama. Semangat peserta seakan tersulut ketika panitia menyajikan gambar-gambar sayur yang siap panen yang telah ditanam pada pekarangan oleh kelompok lain yang telah mendapatkan pelatihan serupa sebelumnya.
Hasil yang diharapkan dari pelatihan tersebut adalah meningkatnya keterampilan anggota kelompok usaha perempuan untuk memanfaatkan pekarangan. Tujuan dari kegiatan ini adalah pertama, untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro keluarga secara berkesinambungan melalui kegiatan pemanfaatan pekarangan. Kedua, meningkatkan keterampilan anggota kelompok dalam budidaya tanaman, sekaligus pengolahannya dengan teknologi tepat guna. Selain untuk konsumsi keluarga, tanaman tersebut tentu bisa mendapatkan keuntungan secara ekonomi, jika dilakukan secara intensif pekarangan mampu memberikan sumbangan pendapatan 7 hingga 45%. Dengan demikian, apakah kita masih berfikir dua kali untuk mengelola pekarangan kita?

Contact
Share This: