Mendatangkan Terang di Punggung Rinjani

Anda di sini

Depan / Mendatangkan Terang di Punggung Rinjani

Mendatangkan Terang di Punggung Rinjani

Pukul  tujuh  pagi, 4 unit bis telah terparkir di halaman hotel tempat peserta menginap. Di Loby, terlihat beberapa peserta telah berpakaian rapi mengobrol bersenda gurau sambil menunggu peserta lainnya. Tidak seperti biasanya, hari ini peserta Pelatihan Dasar Teknik Energi Terbarukan  yang dilaksanakan oleh PEKA SINERGI ini akan melakukan kunjungan lapang ke lokasi pengembangan energi terbarukan. Beberapa lokasi yang akan dituju adalah Desa Bonjeruk dan Pujut serta Gerung  untuk melihat pengembangan energi biomass, Desa Bentek di Kabupaten Lombok Utara untuk melihat pengembangan energi Mikro Hidro serta Desa Selengen Kabupaten Lombok Utara untuk melihat pengembangan energi surya. Tujuannya agar peserta bisa melihat secara langsung peralatan yang dipergunakan serta pola distribusi serta manajemen operasional untuk energi terbarukan yang dikelola secara komunal untuk melengkapi teori yang telah mereka terima selama sepuluh hari terakhir.
Tepat pukul delapan peserta telah berkumpul dan bersiap naik ke dalam bis berdasarkan kelompok dan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Setelah semua selesai, bis pun berangkat ke tujuan masing-masing. Sedangkan kami, mendapatkan kesempatan untuk ikut serta mengunjungi lokasi pengembangan energi surya (PLTS) komunal yang letaknya di Dusun Tangga Desa Selengen Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara. Jarak dari Kota Mataram ke lokasi PLTS sekitar 78 KM, dengan waktu tempuh lebih dari dua jam. Pukul 10. 20 Wita kami tiba di kediaman Kepala Dusun Tangga, Luji Hartono, kedatangan kami disambut hangat. Setelah beristirahat sebentar, kami diajaknya menuju lokasi PLTS yang berjarak sekitar 1 Km dari kediamannya. Perjalanan kami tempuh dengan berjalan kaki, karena jalanan sempit ditambah lagi dengan pengerjaan saluran air bersih sehingga tidak bisa dilewati oleh bis.


Tiba di lokasi PLTS Pak Luji langsung menunjukkan alat serta menjelaskan cara kerja PLTS. Pak Luji cukup mahir menjelaskan karena selain menjadi Kepala Dusun, Pak Luji juga menjadi salah satu inisiator. Saat itu, di bulan Juli tahun 2013 Pak Luji mendapatkan informasi dari seorang kawan bahwa akan ada bantuan pembangunan pembangunan energi listrik yang di khususkan bagi daerah-daerah yang belum terjangkau jaringan listrik. Seolah tidak ingin melepaskan kesempatan, dengan cepat Pak Luji merespon informasi tersebut dengan mendatangi kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lombok Utara. Jawaban yang diperoleh pun cukup memuaskan, Pak Luji hanya diminta untuk menyiapkan proposal. Dengan mempertimbangkan kondisi Dusun Tangga, maka bantuan yang diterima adalah  energi surya. Kabar baik itu disambut dengan antusias oleh warga, mereka bersedia menyiapkan lahan seluas 400 m2 secara swadaya sebagai lokasi pembangunan PLTS. Masing-masing Kepala Keluarga (KK) mengeluarkan dana sebesar Rp. 150.000 untuk biaya pembebasan lahan tersebut, dana tersebut juga sekaligus sebagai biaya pendaftaran.


Tidak lama setelah itu, diawal September bantuan tersebut terealisasi. Panel-panel surya mulai dibangun, jaringan distribusi dan instalasi sudah masuk ke rumah-rumah penduduk. Agar serapan cahaya matahari oleh panel maksimal, maka pohon-pohon di sekitar panel dengan sukarela ditebang. Setelah lima bulan pembangunan, pada bulan Maret 2014 PLTS sudah siap beroperasi. Dengan kapasitas 1000 Watt Fq, PLTS tersebut memenuhi kebutuhan penerangan sekitar 60 kepala keluarga warga Dusun Tangga ditambah 1 Sekolah Dasar dan masjid. Masing-masing rumah mendapatkan jatah 250 watt, dengan kewajiban membayar per bulan sebesar Rp. 15.000. untuk mengefektifkan manajemen maka PLTS tersebut dikelola oleh Koperasi Gatra Mandiri, milik Dusun Tangga yang telah terbentuk sebelumnya namun sempat vakum, dan kembali aktif setelah PLTS tersebut menjadi salah satu unit usaha. Iuran warga tersebut dipergunakan untuk membiayai gaji pengurus dan penjaga malam.
Sejauh ini tidak ada kendala yang dihadapi oleh pengurus PLTS maupun warga, sosialisasi pada awal pemasangan pun dirasa cukup baik sehingga masyarakat sangat memahami fungsi PLTS sebagai sumber penerangan, sehingga mereka menggunakan listrik sesuai kebutuhan. Di musim penghujan, terkadang hujan turun sepanjang hari yang mengharuskan pengurus untuk meng-Off-kan sementara jaringan distribusi agar kebutuhan penerangan setelah Magrib hingga Isya bisa terpenuhi. Konsumen pun sangat memahami kondisi tersebut.
Hari semakin siang, namun Pak Luji tetap semangat menjawab pertanyaan. Demikian pula dengan antusiasme peserta, seolah pertanyaan-pertanyaan selama mendapatkan teori di kelas pelatihan terjawab disini. Hingga Pak Amuddin S.TP.M.Si sebagai ketua tim mengajak kami kembali ke Mataram, diperjalanan menuju lokasi parkir beliau terus bercerita tentang kampungnya yang berada di punggung Rinjani tersebut. Menurut beliau kesukarelaan serta pengertian  warga untuk memanfaatkan listrik sesuai kebutuhan sebenarnya merupakan wujud syukur mereka. Jika mengingat sebelum ada listrik, kami disini hanya mengandalkan lampu pijar sebagai penerangan. Namun menjadi semakin berat karena harga minyak tanah yang semakin mahal mencapai Rp. 15.000/liter yang bisa dimanfaatkan hanya untuk dua malam saja. Untuk mengantisipasi pengeluaran untuk minyak tanah, warga disini punya kebiasaan makan malam sebelum jam 6 sore. Sehingga setelah magrib kondisi kampung sudah sepi dan gelap.


 “Kami merasa terisolir, belum lagi kalau punya HP untuk dapat charge baterai kami harus menumpang ke desa sebelah dan dikenakan biaya  Rp. 5000 per charge nya. Kalau tidak begitu kami akan semakin merasa tertinggal, tapi setelah ada listrik kami merasa lebih dekat dengan dunia luar, karena informasi yang kami dapat semakin cepat, silaturahim dengan tetangga pun semakin erat. Karena di malam haripun kami masih bisa saling mengunjungi”. Manfaat terbesar yang dirasakan warga adalah ketika memasuki Bulan Ramadhan, berbuka puasa tidak lagi gelap-gelapan. Tarawih pun bisa menggunakan speaker. Suasana Ramadhan terasa semakin hidup. Meskipun dua bulan terakhir Listrik PLN sudah mulai masuk ke Dusun Tangga, namun warga masih memilih menggunakan PLTS karena biaya relatif murah dan tidak pernah mengalami pemadaman. Kisah Pak Luji dan Warga Dusun Tangga kembali menyadarkan kita bahwa program yang didasarkan pada kebutuhan warga setempat akan mampu bertahan dan berkelanjutan dibandingkan dengan program yang berdasarkan pada proyek semata.

 

Feedback
Share This: