Modal Sosial sebagai Sarana Membangun Teluk Jor

Anda di sini

Depan / Modal Sosial sebagai Sarana Membangun Teluk Jor

Modal Sosial sebagai Sarana Membangun Teluk Jor

Waktu itu masih pukul sembilan pagi, tapi matahari sudah terasa cukup terik. Namun beberapa pengurus LPATJ (Lembaga Pemangku Awig-awig Teluk Jor) masih semangat menunggu rombongan Tim dari IPB (Institut Pertanian Bogor), Universitas Mataram, Tim BCC dan SKPD. Rombongan tersebut akan melakukan kunjungan ke Bagang Terminal Charger (BTC) yang telah dibangun beberapa bulan lalu oleh tim BCC yang di peruntukkan bagi nelayan yang ada disekitar Teluk Jor sebagai tempat untuk me-recharge baterai yang mereka pergunakan sebagai penerang pada bagang tancap dan bagang apung yang mereka miliki.
Tujuan dari kunjungan tersebut adalah pertama, untuk sosialisasi berbagai poyek yang telah dilakukan oleh PKSPL IPB bersama konsorsium melalui pendanaan MCA Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Kedua, ekspose hasil proyek di NTB. baik yang berlokasi di Lombok Utara, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Dan Ketiga, untuk mendapatkan masukan serta dukungan untuk keberlanjutan proyek terutama setelah pendanaan dari MCAI telah berakhir. Seta adanya tindak lanjut dari sinergi program dengan pemerintah daerah dan juga universitas.
Tidak lama, dua minibus berwarna silver tiba di pelataran parkir di pelabuhan. Dengan cepat Pak Mustamin mengambil syal dan mengalungkannya kepada Rektor IPB Bapak Herry Suhardiyanto yang juga menjadi salah satu peserta dalam kegiatan Courtesy Visit yang diselenggarakan oleh Tim BCC NTB, sebagai ucapan selamat datang. Rombongan pun dibagi menjadi 4 kelompok untuk selanjutnya menumpangi 4 kapal yang sudah disiapkan untuk menuju ke Bagang Terminal Charger (BTC). Hanya memakan waktu selama 15 menit rombongan pun telah tiba di BTC. Disana rombongan diajak untuk melihat panel surya yang telah dibangun oleh Tim BCC melalui proyek pengelolaaan Hijau dengan pendanaan dari Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia. BTC yang dibangun oleh BCC berukuran 12x17m, untuk bagan induk atau bagan tangkap ikan berukuran 12x12m, sisanya 5x12m merupakan bangunan tambahan yang dipergunakan sebagai tempat dipasangnya panel-panel surya dan tempat charger. Panel surya yang terpasang berjumlah 10 buah dengan kapasitas 1200 watt. Dengan kapasitas tersebut energi yang dapat dipanen sebanyak 6Kwh per hari yang tentu saja mampu memasok energi  untuk 20 unit baterai masing-masing 50A. Selanjutnya bateray ini akan dipergunakan sebagai pemasok  listrik untuk lampu pada bagan. Masing-masing bagan biasanya menggunakan dua sampai tiga unit lampu. Sehingga bateray tersebut bisa dipergunakan selama 12 jam. Sebagai sampel pada project ini baterai tersebut akan diberikan kepada 10 orang pemilik bagan di perairan Teluk Jor.


Pak Mustamin sebagai ketua kelompok bercerita bagaimana BTC tersebut dikelola oleh LPATJ. Penyerahan pengelolaan dari BCC ke LPATJ tersebut sebagai upaya keberlanjutan demplot yang dibangun tersebut. mereka mengeluarka iuran sesuai dengan kesepakatan bersama anggota serta melakukan penjagaan secara bergantian. Semangat gotong royong kelompok LPATJ juga semakin berkembang setelah adanya BTC. Menaggapi hal tersebut, Pak Herry menekankan pentingnya menjaga modal-modal sosial yang bertumbuh dan berkembang melalui program tersebut. tidak hanya menjaga bagan dan panel surya yang sudah dimiliki saja. Setelah 20 menit berdiskusi di BTC, rombongan diarahkan kembali ke perahu masing untuk melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan terapung milik kelompok nelayan dan kelompok wanita nelayan di Teluk Jor.
10 menit saja kami sudah tiba. Angin beraroma laut bertiup cukup kencang mengimbangi panas yang sangat terik dising itu. Pada pertemuan yang didesain sangat santai tersebut secara bergiliran manager proyek dan koordinator lapangan Tim BCC NTB secara bergantian menjelaskan capaian projek yang telah dilakukan selama hampir dua tahun terakhir serta apa saja hal-hal baik yang diperoleh dari program tersebut serta apa saja langkah-langkah yang diambil untuk keberlanjutan program. Untk membuka dialog, Pak Priyanto Wibowo menjelaskan lokasi-lokasi proyek yang tersebar di tiga kabupaten di pulau Lombok yaitu di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Beberapa demplot telah dibangun di ketiga kabupaten tersebut. diantaranya adalah pertama, demplot biogas pada kandang kolektif milik warga di desa Rempek Kabupaten Lombok Utara. Demplot tersebut lebih mengutamakan pemanfaatan bioslurry sebagai pupuk organik dan media tanam. Kedua, demplot tambak udang Vanamei dengan sistim probiotik. Pada demplot ini mengutamakan perbaikan lingkungan dan kualitas air sehingga akan meminimalisir perkembangan penyakit berak putih pada udang. Ketiga, demplot Bagan terminal charger yang dibangun di kawasan Teluk Jor. selain itu, dikabupaten Lombok Timur juga kini sudah dikembangkan ekowisata di desa Padak Goar. Kegiatan yang dilakukan untuk mendukung pengembangan ekowisata tersebut BCC telah melakukan pelatihan bagi pramuwisata dilokasi tersebut. Jika di Jerowaru BCC menggandeng LPATJ maka di Padak Goar BCC menggandeng Pokdarwis sebagai pengelola ekowisata.


Ketika ditanyai mengenai keberlanjutan program, L. Kartawang sebagai Koordinator Kabupaten Lombok Timur menyampaikan sudah terbangun komitment dua desa yakni Desa Jerowaru dan Desa Paremas, karena secara admnitratif Teluk Jor berada di dua desa tersebut. Untuk Jerowaru telah menganggarkan dana desa yang mereka miliki untuk membangun 70 bagang tancap dengan mengadopsi model BTC yang dibangun oleh BCC. Sementara Desa Paremas akan membangun 40 serupa demplot. Sedangkan di Lombok Utara, pemerintah daerah telah berkomitmen untuk mengembangkan dan menggalakkan pemanfaatan pupuk organik sehingga pasar bagi produk pupuk organik peternak di Lombok Utara berpeluang besar.
Mendengar hal tersebut, Rektor IPB kembali menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan moda sosial sebagai sarana untuk membangun Teluk Jor dan juga daerah-daerah lain yang menjadi lokasi dampingan. Modal Sosial yang dimaksud adalah penampilan organisasi sosial, seperti kepercayaan, norma-norma (atau hal timbal balik), dan jaringan (dari ikatan-ikatan masyarakat), yang dapat memperbaiki efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi  adanya koordinasi dan kerjasama bagi keuntungan bersama. Selain itu, masyarakat dikawasan teluk jor ini harus terbuka untuk menerima hal-hal baru karena masyarakat harus bisa berdaptasi atas segala bentuk perubahan. Baik lingkungan maupun sosial sehingga menjadi suatu hal yang memungkinkan masyarakat untuk dapat saling belajar. Diakhir sesi diskusi, Bapak Herry, Rektor IPB. Menitipkan pesan kepada seluruh nelayan di Teluk Jor melalui ketua LPATJ agar nelayan selalu menjaga kekompakan, open minded, selalu mampu beradaptasi atas segala perubahan dan menjaga lingkungan.
Setelah makan siang, rombongan kembali ke daratan. Kali ini perahu yang kami tumpangi mengambil rute yang berbeda karena air laut mulai surut. Sehingga waktu mencapai daratan sedikit lebih lama. Sekitar 30 menit kami tiba dipelabuhan, dua minibus sudah bersiap untuk membawa rombongan ke lokasi lain di Lombok Tengah yaitu demplot Udang Vanamei dan demplot budidaya lobster. Direncanakan sebelum kembali ke bandara, Tim IPB akan bertemu dengan perwakilan Universitas Mataram untuk berdiskusi tentang keberlanjutan program serta sinergi pendampingan atas hasil yang telah diperoleh. Namun demikian, bagi nelayan di Teluk Jor, cukuplah pesan singkat dari Rektor IPB menjadi pegangan untuk membangun Teluk Jor.

 

Feedback
Share This: