Anak Mamasa Siap Menjaga Hutan Mereka dari Ketinggian 2000 meter

Anda di sini

Depan / Anak Mamasa Siap Menjaga Hutan Mereka dari Ketinggian 2000 meter

Anak Mamasa Siap Menjaga Hutan Mereka dari Ketinggian 2000 meter

Pagi itu, 6 Oktober 2017, SDN 002 Mamasa menjadi tuan rumah acara Pemutaran Video Animasi dan Sosialisasi Buku Komik Mari Mengenal Hasil Hutan Bukan Kayu. Seratus murid kelas 4, 5 dan 6 dari SDN 001 dan SDN 002 Mamasa berkumpul di depan kelas, menunggu dipersilakan masuk. Namun mereka didahului oleh seorang anak kecil bernama Pali, yang sudah tidak sabar ingin acara dimulai. Senyum merekah di wajahnya sembari duduk di salah satu bangku. Tatapannya lurus ke depan seraya bertanya “Kapan dimulai?”

Dua kelas yang dipisahkan oleh pembatas papan kayu digabung dan disulap menjadi tempat acara. Lantainya beralaskan semen. Bangku-bangku disusun dengan rapi, menyisakan lorong-lorong kecil di setiap sisinya. Tidak lama kemudian para murid yang berdesakan di luar mulai menyesaki kelas menyusul Pali yang telah lebih dulu masuk.

 

 

Pagi itu Yayasan BaKTI mengenalkan kepada anak-anak sekolah tentang hasil hutan bukan kayu melalui Komik dan Video Animasi. “Tahun lalu kami Yayasan BaKTI juga mengadakan acara serupa di SDN 001 Mamasa. Kali ini kami datang membawa misi untuk mengenalkan pentingnya menjaga hutan. Kami akan menyerahkan beberapa buku kepada Dinas pendidikan untuk dibagikan kepada perpustakaan yang sekolahnya tidak sempat hadir hari ini,”. Demikian sambutan Afdhaliyah Marifah, Communication Officer and Outreach (COO) Yayasan BaKTI. Beliau berpesan kepada anak-anak untuk berbagi pengetahuan lewat buku komik kepada teman-teman mereka yang tidak sempat mengikuti acara dengan membaca buku tersebut bersama-sama.

 

Acara dibuka oleh Kepala Bidang Pendidikan dan Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan Kabupaten Mamasa, Bapak Rusli S. Pd, M. Pd dan dihadiri oleh Kepala Sekolah SDN 002 Mamasa, Ibu Lina S.Th serta Kepala Sekolah SDN 001 Mamasa yang diwaliki oleh Bapak Frans Dematande, S.Pd.

“Kami sangat mengapresiasi dan mengucapkan selamat kepada Yayasan BaKTI untuk kedua kalinya menempatkan programnya di daerah kami. Kami memberi penghargaan yang setinggi-tingginya dan semoga selalu diberkahi sehingga bersama-sama kita dapat membangun daerah kita, terkhusus Mamasa dengan daerah pegunungan yang memiliki banyak hutan yang luas,” tutur pak Rusli saat memberi sambutan. Beliau juga menyampaikan informasi bahwa tahun ini di Mamasa sedang difokuskan untuk mendapatkan hasil hutan non kayu berupa getah pinus yang memang banyak tumbuh di Mamasa.

Setelah acara resmi dibuka, secara simbolis Yayasan BaKTI menyerahkan lima puluh buku komik kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Mamasa untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah di Mamasa.

 

 

“Mana suaramu?” tanya Kak Heru, host dari Rumah Dongeng Makassar, saat memasuki acara inti.

“Ini suaraku!” Suara nyaring khas anak-anak terdengar memenuhi kelas. Cuaca dingin Mamasa tak membuat anak-anak itu hilang semangat. Mereka sudah terbiasa dengan suhu 17 derajat yang menyelimuti kota mereka. Sebelum menonton video animasi Hasil Hutan Bukan Kayu, anak-anak diberi lembar pre-test untuk mengetahui kemampuan dasar yang mereka miliki.  Usai mengisi pre-test, mereka langsung disuguhkan video animasi. Suasana menjadi hening. Semua mata tertuju ke layar putih yang memutar video animasi tentang Hasil Hutan Bukan Kayu.

Jika mungkin selama ini mereka hanya mengenal kayu sebagai hasil hutan, sekarang pengetahuan mereka bertambah. Hasil hutan bukan hanya kayu. Ada banyak sekali hasil hutan yang bisa dimanfaatkan dan tidak merusak hutan itu sendiri. Madu contohnya. Ada juga kemiri, gula aren, bambu dan wood pelet. Madu dapat diperoleh dari lebah. Sementara kemiri dapat diambil dari pohon kemiri. Gula aren juga dapat diperoleh dari air nira yang terdapat pada pohon aren. Bambu bisa ditemui dimana saja dan bisa dimanfaatkan untuk banyak hal, sedangkan wood pelet dapat diperoleh dari pohon Kaliandra dan diolah sebagai bahan bakar untuk memasak yang ramah lingkungan.

 

 

Video animasi yang berdurasi empat menit tersebut dibagi dalam dua sesi. Di setiap sesi, Kak Heru melempar pertanyaan kepada para siswa. Yang berhasil menjawab akan mendapatkan hadiah. Karena semua siswa sangat antusias ingin mendapatkan hadiah, Kak Heru memakai cara yang unik untuk menentukan calon pemenang. Kak Heru kembali bertanya “Mana suaramu?” dan setiap anak harus menjawab “Ini suaraku!” dengan gaya unik. Yang gayanya paling unik akan dipanggil Kak Heru naik ke depan untuk menjawab pertanyaan.

 

Ada yang lucu saat seorang anak terpilih. Sepertinya ia tidak menyangka dirinya akan dipilih. Anak bertubuh tambun itu pun sempat menolak naik karena malu. Berkat bujukan dari semua orang di kelas, akhirnya ia pun memberanikan diri untuk maju. Kak Heru menyuruhnya kembali berpose dengan gaya uniknya tadi. Meski awalnya enggan, namun akhirnya ia menunjukkan gaya ‘Dab’ ala pemain sepakbola saat selebrasi mencetak gol. Ia pun menjadi percaya diri saat mengulang gaya uniknya kedua kali. Pertanyaan yang diberikan kepadanya pun tak kalah unik. Kak Heru memberi waktu sepuluh detik kepadanya untuk melihat banner acara. Setelah waktunya habis, Kak Heru bertanya ada berapa banyak lebah dalam gambar banner. Dengan tegas dia menjawab lima. Teman-temannya mulai mengoceh, mengatakan jawabannya salah dan menyebut angka-angka selain lima. Saat Kak Heru kembali bertanya padanya, dengan yakin dia tetap menjawab lima. Karena keteguhannya, anak itu berhasil mendapat hadiah. Jawabannya benar.

 

 

Memasuki sesi baca komik, Kak Heru membagi seratus anak ke dalam lima kelompok berdasarkan bangku yang mereka duduki. Suasana kembali hening. Mereka tenggelam dalam bacaan berbagai hasil hutan bukan kayu yang memiliki banyak manfaat itu. Selesai membaca, Kak Heru memberi tugas kepada mereka. Mereka harus menamai kelompok masing-masing dengan nama hasil hutan bukan kayu. Nama-nama seperti Madu, Aren, Kemiri, Kayu pelet dan Bambu pun menjadi pilihan mereka. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk menantang kelompok lain dan memberi pertanyaan yang berkaitan dengan nama kelompok yang ditantangnya. Kembali anak-anak menggebu-gebu ingin mendapatkan hadiah. Seorang anak perempuan dari kelompok Bambu sampai melompat-lompat kecil saat tiba waktunya bagi kelompoknya untuk menjawab pertanyaan. Wajahnya begitu bahagia saat dia berhasil menjawab dan mendapat hadiah berbungkus kertas kado.

Menonton video animasi sudah, membaca komik pun telah selesai. Waktunya Kak Heru mengajak anak-anak untuk bernyanyi dan bergoyang bersama. Tidak hanya itu, Kak Heru juga berdongeng kepada mereka tentang Pohon Bambu yang kecil dan ringkih dan Pohon Jati yang besar dan kokoh. Pohon Jati sangat sombong. Dia tidak ingin bermain dengan Pohon Bambu dan  mengejeknya karena tubuhnya yang kecil. Hingga suatu hari angin kencang menerpa. Pohon Jati roboh karenanya. Sebaliknya, Pohon Bambu tetap tegak berdiri tak tergoyahkan.

 

 

Sebagai penutup, anak-anak kembali mengisi lembar pertanyaan untuk mendapatkan gambaran tentang perubahan pengetahuan para murid setelah menonton video dan membaca buku komik.

Video dan buku komik ini sangat bermanfaat bagi anak-anak, seperti yang disampaikan oleh Ibu Nurul Fajria, guru SDN 001 Mamasa, “Materinya sangat baik untuk bisa menjadi pelajaran bagi siswa untuk mengenal hasil hutan bukan kayu. Didukung dengan komik yang bagus sehingga anak-anak lebih tertarik untuk membaca,”

Kabupaten Mamasa yang terletak di ketinggian 2000-3074 meter di atas permukaan laut memiliki kondisi geografis yang terdiri dari daerah lembab, daerah lereng dan dataran, menggambarkan suatu daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Hutan-hutan di Mamasa banyak menghasilkan sumber daya alam seperti buah-buahan, kopi, dan kakao. Anak-anak ini sudah berkomitmen untuk menjaga dan melestarikannya. Di akhir acara, secara bersamaan mereka membaca sekeras-kerasnya kalimat yang terdapat di halaman akhir buku komik Mari Mengenal Hasil Hutan Bukan Kayu : Mari Jaga Hutan Kita Agar Tetap Lestari!

 

Feedback
Share This: