Menanam harapan di Rumah Semai

Anda di sini

Depan / Menanam harapan di Rumah Semai

Menanam harapan di Rumah Semai

Di atas tanah yang datar,  hampir separuh luas lapangan sepak bola, terbentang jaring peneduh (paranet) menaungi ribuan polybag berisi biji-bijian dari ragam tanaman dan anakan rotan yang sedang disemaikan. Di sebuah sudut paranet, seorang lelaki sedang berkeliling memeriksa kondisi pembibitan sembari sesekali berhenti dan duduk memainkan jemarinya mencabut gulma di tanah polybag yang ikut tumbuh bersama biji-biji kecambah.

 

Sore itu (13/8)  Manager Nursery (Rumah Semai) Konsorsium PSDABM-M (Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat-Mamuju), Ferial sedang meninjau Rumah Semai di Desa Bonehau bersama Tim BaKTI yang juga menjadi Mitra MCA-I. Lokasi pembibitan sekira puluhan meter di belakang Sekretariat Konsorsium PSDABM-M.  Sore itu langit agak gelap cenderung mendung, di beberapa tanah pinggiran masih tersisa air hujan semalam. “Salah satu tantangan kami di pembibitan adalah hujan. Air berlebih dapat merusak akar tanaman, dan menggenangi polybag yang berdampak pada busuknya biji,” ungkap Feri yang beberapa hari lalu agak kuatir dengan perubahan cuaca yang tak bisa diduga.

 

Menurut Feri, panggilan akrab lelaki asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini, sampai Bulan Agustus telah terbangun dan diresmikan tiga buah Rumah Semai yang berfungsi sebagai lokasi pembibitan rotan dan tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) yang tersebar di Kecamatan Bonehau Kabupaten Mamuju pada tiga Desa lokasi projeyek yakni di Desa Bonehau, Desa Tamalea, dan Desa Hinua. Setiap lokasi Pembibitan dikelola oleh dua orang warga setempat yang berfungsi sebagai Pengelola  Teknis yang diangkat khusus oleh PSDABM-M. 

 

 

Seorang Pengelola teknis Rumah Semai di Desa Tamalea, Markus menceritakan betapa senangnya ia terpilih sebagai Pengelola Rumah Semai. Selain menambah pengetahuan tentang cara pembibitan yang baik, ia juga memperoleh imbalan yang dianggapnya sebagai hadiah dari kerja kerasnya merawat pembibitan. Menurutnya, menjadi pengelola adalah tugas mulia. “Saya bangga terpilih jadi Pengelola, sebab tidak semua orang bisa dipercaya. Makanya, saya kerjakan tugas ini dengan hati-hati,” akunya bangga.

 

Dijelaskannya pula oleh Pak Markus, bibit yang dirawatnya akan menjadi harapan masa depan bagi generasi berikutnya. Oleh karena itu ia berhati-hati saat memindahkan polybag ke tempatnya. Ketidak hati-hatian bisa merusak perkembangan kecambah yang berusia muda. Sudah hampir delapan bulan Pak Markus menjalankan tugasnya, dan sampai saat ini belum ada tantangan berat yang dihadapinya kecuali kendala cuaca yang tak menentu, misalnya hujan yang datang tiba-tiba.

 

Sementara itu, Lince, Pendamping Nursery (pembibitan) di Desa Hinua mengakui bahwa kehadiran Rumah Semai telah memberi tambahan pendapatan bagi warga, khususnya kaum perempuan. Proses pembibitan diawali dengan pengisian tanah ke dalam polybag yang telah dicampur dengan sekam padi. Pengisian polybag ini melibatkan sepuluh Kelompok Perempuan, di mana masing-masing kelompok terdiri dari sembilan orang perempuan dan dibantu seorang laki-laki yang bertugas untuk menggali tanah dan mencampur bahan isisan.  Kaum perempuan dipilih dari warga sekitar yang dianggap paling membutuhkan tambahan penghasilan seperti perempuan kepala rumah tangga, dan penyandang disabilitas. “Kaum perempuan di Desa Hinua begitu antusias ingin ikut terlibat, tapi kami tidak bisa menerima semua, karena keterbatasan jumlah dan persyaratan tertentu,” katanya.

 

 

Rahmah (42 tahun) salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Bonehau menceritakan betapa hasil dari mengerjakan polybag telah membantunya memenuhi kebutuhan dapur dan membeli perlengkapan sekolah untuk anak-anaknya. “Senang sekali dapat uang dari membuat polybag (maksudnya mengisi polybag dengan tanah). Saya sebenarnya masih kuat, masih bisa buat banyak lagi, tapi ada batas jumlahnya bagi setiap orang, jadi saya harus berbagi juga dengan teman-teman lain,” ujar Ibu empat orang anak ini.

 

Saat ini, Ferial dan Pengelola Rumah Semai terus melakukan perawatan bibit dan anakan yang sudah mulai tumbuh, sembari terus menyuplai ketersediaan anakan rotan dan bibit baru MTPS. Dijelaskan oleh Ferial, MTPS merupakan aneka ragam pepohonan yang menghasilkan buah maupun kayu untuk dimanfaatkan manusia dalam menjaga serta mempertahankan fungsi hutan. Ada tiga jenis tanaman MTPS yang paling banyak diadakan oleh KTH (Kelompok Tani Hutan) di ketiga Rumah Semai yakni durian, kemiri dan sukun. KTH dipercaya oleh Konsorsium untuk pengadaan bibit MPTS dan biji atau anakan rotan melalui Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktan Hutan) yang menaungi kurang lebih empat belas KTH pada tiga desa binaan Konsorsium PSDABM-M

 

Seraya menunggu aktivitas pembangunan pabrik rotan yang akan ditempatkan di Bonehau, Tim Konsorsium PSDABM-M yang terdiri dari empat lembaga yakni Perkumpulan Inisiatif, Tim Layanan Kehutanan, Serikat Perempuan Bonehau (SPB) dan Sande’ Institute  secara aktif menjadikan Rumah Semai sebagai ruang belajar bagi warga tentang pembibitan, budidaya rotan, pembuatan pupuk organik dan juga pengorganisasian kelompok. Bukan hanya sebagai ruang belajar, beberapa Pengelolapun telah menjadi sumber belajar bagi petani lainnya. Selain sebagai rumah pengetahuan, rumah semai juga telah memberi alternatif pendapatan baru bagi petani. 

 

Feedback
Share This: